Sungguh tolol keputusan membolehkan sepeda motor melewati semua jalan tol di Indonesia. Apa dasarnya dibilang tolol?
Pengemudi sepeda motor pada dasarnya susah untuk berdisiplin. Berapa banyak dari anda yang pernah mengendarai kendaraan lain (mobil pribadi/kendaraan umum) ketika cuaca hujan dan melewati sebuah terowongan? Bisa dipastikan banyak pengemudi sepeda motor yang berteduh disana tanpa mempedulikan kendaraan yang kesulitan melalui terowongan karena terhalang motor yang parkirnya bisa memenuhi setengah terowongan.
Alhamdulillah, pengumuman hasil ujian masuk S2 (magister) sudah keluar dan saya dinyatakan lulus alias DITERIMA!!! Uhuyy… Ndak percaya? Lihat disini deeeh… yang nomor 389 itu lhooo…
Hehehe, ini artikel sudah lama numpuk di kepala, ga tahu apa masih inget dengan tepat semua kejadian-kejadiannya.
Ya, setelah diberi kepercayaan beasiswa oleh perusahaan tempat saya bekerja – melalui serangkaian tahapan yang cukup panjang – akhirnya saya bisa sekolah lagi. Kebetulan saya mendaftar tingkat magister Teknik Kimia bidang process engineering di ITB.
Agak aneh ya? Mengingat jurusan S1 saya sebelumnya (Teknik Fisika) tidak terlalu berhubungan dengan Teknik Kimia. Biasanya teman yang berlatar belakang non-teknik akan geleng-geleng kepala seraya berkomentar “nanti S3-nya apa? Teknik Biologi ya, biar lengkap sekalian!” hahaha…
Yah, begitu lah! Bike To Work (BTW) atau pergi bekerja dengan bersepeda. Terinspirasi oleh semakin maraknya komunitas orang-orang yang berangkat kerja ke kantor menggunakan sepeda di Jakarta (Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia ), saya membulatkan tekad untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi ke kantor. Di negara-negara Eropa, dan juga Prancis, penggunaan sepeda sebagai alternatif transportasi sudah jauh lebih maju. Mereka mempunyai jalur sepeda sendiri, penyewaan sepeda berbayar dengan kartu, etiket bersepeda dan lain-lainnya. Saya perhatikan di kota Paris, tua/muda, lelaki/wanita, mereka tidak mempedulikan tipe atau jenis sepedanya. Yang penting fungsionalitas alat mereka, jadi lah dipake.. Sesuai dengan kepribadian saya banget! hehehe…
Dari suatu miling list, saya mengetahui ada rumus sederhana dalam penggunaan alat transportasi secara efisien:
1. Jika jarak tempuh kurang dari 1 km, berjalan kaki
2. Jika jarak tempuh kurang dari 5 km, naik sepeda
3. Jika jarak tempuh lebih dari 5 km, naik kendaraan bermotor
Rumus diatas tentunya tidak kaku, hanya sebagai referensi awal, pernah saya temui juga seorang BTW-ers sehari melalap jarak 60 km. Edan! Itu cerita lain, mungkin kebanyakan energi tuh orang.
Bulan Agustus tahun 2008 adalah bulan tour pertama saya mengunjungi anjungan lepas pantai yang menjadi tanggung jawab saya. Oiya, sedikit cerita, secara efektif bulan Juni 2008, saya dipindah bagian ke tempat baru, berhubungan dengan metering system yang mengukur hidrokarbon gas dan cair. Atasan saya menugaskan untuk memberikan dukungan teknis untuk semua yang berhubungan dengan sistem pengukuran gas dan minyak di area laut Natuna timur dan barat.
Nah, saya sendiri kebetulan mendapat ijin untuk tinggal di lepas pantai sebelum tanggal 17 Agustus. Saya sendiri tidak menyangka jika perayaan 17 Agustus di anjungan lepas pantai bisa sama meriahnya dengan di darat. Selama seminggu sebelum tanggal 17 Agustus, seperti layaknya acara di kampung2, rekan-rekan yang bekerja di offshore mengadakan perlombaan yang sifatnya gembira ria seperti lomba makan krupuk, lomba minum susu, bowling, basket. Khusus bowling dan basket, peralatannya pake mainan anak-anak yang ukurannya cukup kecil, tapi jaraknya jauh2 sehingga susah juga nembaknya.
Sepertinya saya dan istri baru-baru saja menikah. Tak terasa pernikahan kami sudah berjalan dua tahun. Malah, anak kami sudah hampir dua lho! Bayangkan, tiap tahun hamil hehehe…
Meskipun kami sudah merayakan ultah pernikahan kami dua minggu lalu, pagi ini saya mengajak istri saya sambil berdansa kecil sambil menyanyikan lagu yang berjudul “Dia”, tembang laris tahun 1985 dan dinyanyikan ulang dengan apik oleh Syaharani. Aslinya lagu ini hasil kolaborasi antara Ireng Maulana dan Harvey Malaiholo.
Amati deh liriknya, sangat romantis. Cocok dinyanyikan untuk pasangan tercinta. Untuk saya, lagu ini sangat menggambarkan istri saya. Selamat ulang tahun pernikahan ke-2 istriku!
Selain bapak mertua dan ibu mertua saya yang rajin memberikan masukan mengenai renovasi rumah kami, ada juga orang-orang yang berjasa besar membantu kami dalam merenovasi rumah kami di Pasar Minggu, yaitu para tukang bangunan.
Nah, sedikit kilas balik, kebetulan karena saya tidak menggunakan jasa konsultan konstruksi bangunan, terpaksalah saya sendiri yang menjalankan tugas sebagai pengawas alias mandor tukang. Mulai dari pekerjaan mengatur pekerjaan tukang apa saja, mengatur belanja material semen/pasir/batu/kayu dan mengatur keuangan renovasi supaya tidak jebol.
Mengatur belanja material dan mengatur keuangan renovasi itu relatif “mudah”, karena mau diapakan juga yang diatur pasti nurut-nurut saja, tidak protes, lha wong namanya juga benda-benda mati. Nah kalo mengatur tukang – yang notabene bukan benda mati – itu gampang-gampang susah! Pertama, kemampuan para tukang itu berbeda. Ada yang hebat dalam kerjaan batu, ada yang canggih masalah perkayuan dan lain sebagainya. Kata orang bilang: tempatkanlah orang yang tepat pada posisi yang tepat, maka hasilnya pasti akan dahsyat. Ini berlaku juga dalam masalah atur-mengatur tukang. Kerjaan tukang batu berbeda sekali dengan kerjaan tukang kayu, kalau tukang batu dipaksa mengerjakan pekerjaan tukang kayu hasilnya pasti amburadul, demikian juga sebaliknya. Pengenalan keahlian dan kemampuan tukang serta pendistribusian kerja berdasarkan kemampuan sangatlah penting.
Hahaha! I’m Too Sexy-nya Right Said Fred nih salah satu lagu jadul yang masih saya ingat sampai sekarang karena liriknya lucu dan iramanya cukup bersemangat. Terinspirasi dari blog istri yang ini, jadi pengen nulis.
Lirik lagunya sih bercerita mengenai betapa seksinya dia (penyanyinya). Saking seksinya dia, bahkan untuk apapun yang ada disekitar dia, dia menjadi terlalu seksi, mulai dari topi, mobil, kucingnya, dlsb. Juga saking pedenya, dia mengklaim bahwa pacarnya meninggalkan dia gara-gara dia terlalu seksi. Overpede ga seh?
Ga tahu nih si Right Said Fred sekarang ada dimana. Apa dia ngerasa terlalu sexy untuk dunia musik, sehingga dunia musik meninggalkannya, begitu kah?
Dulu ketika saya sekolah SD, SMP dan SMA tidak pernah sekalipun saya mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari pihak lain selain dari orang tua. Pun beranjak kuliah saya diwanti-wanti oleh orang tua saya untuk tidak mengambil beasiswa dari pihak mana pun. Karena orang tua saya berjanji untuk membiayai sekolah saya sampai lulus S1, tentu saja saya menuruti permintaan mudah ini. Lagipula, saya juga tahu diri kok. Dengan prestasi akademik saya yang sangat biasa-biasa, sepertinya penyedia beasiswa juga segan melirik ke saya. Jangankan melirik, berpikir untuk melirik saja mungkin tidak pernah hahaha!
Pada awalnya saya tidak mengerti maksud atau tujuan orang tua saya tidak membolehkan saya menerima beasiswa. Ketika sudah lulus kuliah dan kemudian bekerja di Jakarta selama beberapa tahun serta merenung cukup lama, saya baru ‘ngeh’. Rupanya orang tua saya mempunyai prinsip: “selama masih mampu membiayai sendiri, orang tua akan terus membiayai anak sampai lulus sarjana”. Rupanya orang tua saya tidak menginginkan saya mendapatkan beasiswa sementara ada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan pendidikan malah tidak dapat beasiswa, padahal tanpa beasiswa pun saya masih bisa sekolah. Ini namanya merenggut kesempatan orang lain untuk maju.
Waktu saya kecil, siaran televisi yang ada hanya dari TVRI. Acara televisi tentu saja hanya sedikit dan tidak semuanya untuk konsumsi anak kecil. Salah satu acara favorit saya adalah acara “Gemar Menggambar” oleh pak Tino Sidin dengan topi baret hitam yang ada kuncung kecilnya.
Yang paling saya ingat dari acara Pak Tino Sidin adalah ketika siarannya akan berakhir, yaitu penilaian karya gambar anak Indonesia. Jadi anak-anak dari seantero Indonesia dipersilahkan untuk mengirimkan karya-karya gambarnya ke Pak Tino Sidin untuk diperlihatkan di TVRI dan dinilai langsung oleh beliau. Pertama-tama beliau memperlihatkan gambar kirimannya, kemudian informasi dari siapa gambar ini dikirim, menggambarkan apa gambarnya dan “nilainya” langsung diberikan oleh Pak Tino Sidin saat itu juga. Nilai ini lah yang menjadi ciri khas Pak Tino Sidin, yaitu kata “BAGUS”.
Tulisan ini dulu pernah beredar di milis, tetapi dicari-cari ga ketemu juga. Ya wis, saya tulis versi saya sendiri.
Psikologi Lift
Sudah sangat umum bahwa gedung-gedung perkantoran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya memiliki lift. Lift yang umum kita temui biasanya mampu menampung 10-15 orang sekaligus. Dari sekian banyak orang yang tertampung di dalam lift, kadang-kadang kita mengenal sebagian besar orang yang ada di dalam lift, bisa juga malah tidak kenal sama sekali.
Meskipun demikian, ada suatu tingkah laku dari orang-orang yang menunjukkan bahwa ”komposisi manusia” didalam lift itu serupa di gedung manapun terlepas dari semua orang saling kenal atau tidak mengenal sama sekali. Maksud “komposisi manusia” itu adalah posisi orang-orang berdiri didalam lift dan komposisi ini akan bergantung dengan jumlah penumpang lift yang berbeda. Boleh percaya atau tidak, seolah-olah komposisi manusia itu mengikuti suatu aturan baku.