Pak Tino Sidin dan Anak-Anak Indonesia

Waktu saya kecil, siaran televisi yang ada hanya dari TVRI. Acara televisi tentu saja hanya sedikit dan tidak semuanya untuk konsumsi anak kecil. Salah satu acara favorit saya adalah acara “Gemar Menggambar” oleh pak Tino Sidin dengan topi baret hitam yang ada kuncung kecilnya.

Yang paling saya ingat dari acara Pak Tino Sidin adalah ketika siarannya akan berakhir, yaitu penilaian karya gambar anak Indonesia. Jadi anak-anak dari seantero Indonesia dipersilahkan untuk mengirimkan karya-karya gambarnya ke Pak Tino Sidin untuk diperlihatkan di TVRI dan dinilai langsung oleh beliau. Pertama-tama beliau memperlihatkan gambar kirimannya, kemudian informasi dari siapa gambar ini dikirim, menggambarkan apa gambarnya dan “nilainya” langsung diberikan oleh Pak Tino Sidin saat itu juga. Nilai ini lah yang menjadi ciri khas Pak Tino Sidin, yaitu kata “BAGUS”.

“Ini gambar buatan Weby. Gambarnya memakai krayon tentang pemandangan alam. Ada gunung dan hutannya. Bagus”. Pengeeeen banget gambar saya dikomentari oleh Pak Tino Sidin seperti itu, tapi ga pernah terlaksana bahkan sampai saya beranjak besar, karena takut dibilang jelek hehe.

Begitu lah cara Pak Tino Sidin memberikan komentarnya terhadap karya-karya yang dikirimkan kepada beliau. Nilai “Bagus” selalu diberikannya kepada semua karya tanpa terkecuali. Meskipun gambarnya carut marut ga keruan dengan komposisi warna hancur-hancuran, tetap saja nilai “Bagus” akan meluncur dari Pak Tino Sidin.

Jaman sekarang ini, acara televisi semakin beragam seiring dengan semakin banyaknya stasiun televisi swasta yang beroperasi di Indonesia. Selain Kak Seto, sepertinya masih belum ada figur seperti Pak Tino Sidin yang begitu memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menyukai apa yang dilakukannya. Apalagi ditambah dengan semakin derasnya era komersialisasi mendera semua stasiun televisi. Bahkan sekarang sudah hampir tidak ada lagu-lagu yang khusus diciptakan untuk anak-anak setelah era Papa T. Bob dkk. Indikatornya mudah saja, setiap acara-acara menyanyi oleh anak-anak, lagu-lagu yang mereka nyanyikan justru lagu cinta-cintaan orang dewasa. Tengok juga acara ulang tahun, lagu-lagu apa saja yang diputar?

Buat yang ingin tahu mengenai Pak Tino Sidin, berikut adalah info dari Pusat Data dan Analisis TEMPO (pdat.co.id).

TOKOH – TINO SIDIN – Pusat Data dan Analisis TEMPO

Tino Sidin masih tampil khas. Berkemeja batik ”garis lengkung”, berbaret hitam dengan kuncir di atasnya, dan — kalau di luar layar televisi — cangklong hitam buatan Denmark — terselip di bibir. Dua dari 10 baretnya, konon, hadiah Presiden Soeharto. Sisanya ada yang dari bekas Menteri P & K, Dr. Daoed Joesoef. ”Saya heran, musibah yang menimpa kok serba ‘S’?” ujar lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, 1963, yang terkenal setelah mengasuh acara Gemar Menggambar di TVRI, 1978. Tabrakan yang dialaminya di Kebumen, 2 November 1982, bertepatan dengan hari Selasa, mobil yang dikendarainya merk Suzuki, dan korban yang tewas bernama Surtini dan Sumaryanto.

Diakuinya, saat itu ia memang letih dan mengantuk. Tetapi, sopir yang mengisi empat penumpang di ruang pengemudi dianggapnya lebih salah lagi. ”Kalau di garis lurus, bisa saja dia ngebut,” ucapnya dengan nada yang berubah kocak, ”kalau masuk garis lengkung ‘kan celaka?” kata Pak Tino, yang kalau mengajar di TV selalu mengedepankan ‘garis lurus’ dan ‘garis lengkung’ itu. Dijatuhi hukuman 6 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Kebumen, ia langsung naik banding.

Tino Sidin sempat ngambek, ketika acara mingguannya di TVRI diselingi Kak Alex, tanpa pemberitahuan kepadanya. Ada yang menganggap sistem Pak Tino bisa merusakkan kreativitas anak, sedangkan yang lain — karena caranya yang kocak — berpendapat justru membangkitkan minat menggambar para bocah. Akhirnya, ia bersedia disisipi. ”Kasihan anak-anak,” katanya.

”TV bukan sekolah menggambar,” kata orang Jawa kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, itu. Acara Gemar Menggambar, menurut dia, harus bisa dinikmati semua golongan dan usia. Menggambar ibarat mengeja abjad, sedangkan melukis bagaikan mengarang novel. Karena itu, prinsipnya mengajar adalah: ”Membuat anak suka menggambar, itu saja.”

Putra bekas anggota pasukan Marsose di zaman Belanda itu suka menggambar di masa kecilnya. Padahal, dilarang oleh kakeknya, seorang sais pedati, karena dianggap tidak bisa menghidupi.

Menempati rumah kontrakan di Taman Aries, Jakarta Barat, Tino juga mengajar menggambar di tempat lainnya di Jakarta, seperti Pasar Seni Ancol, Pluit, dan Kepa Duri. Ia memimpin pelajaran menggambar di sejumlah TK dan SD Jakarta, lewat ”Taman Tino Sidin” yang juga dikembangkan di Surabaya, Yogyakarta, dan Padang. Ini, katanya, diilhami Taman Ismail Marzuki. ”Karena Taman Tino Sidin tak ada yang bikin, saya bikin sendiri,” tambahnya sambil tertawa.

Penggemar jalan-jalan ke ”gunung yang ada mistiknya” ini telah menghasilkan sejumlah buku. Antara lain, Bawang Merah Bawah Putih, dan Ibu Pertiwi, terbitan Balai Pustaka. Mari Menggambar macet setelah terbit 10 jilid. Malasnya timbul, katanya, setelah buku itu dibajak orang.

BIODATA PAK TINO SIDIN

Nama : TINO SIDIN
Lahir : Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925
Meninggal : Jakarta, 29 Desember 1995
Agama :Islam

Pendidikan :
-Sekolah Taman Siswa, Tebingtinggi
-Pendidikan Melukis
-Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1960-1963)
Karir :
-Pegawai Kementerian Penerangan Jepang (1944-1945)
-Polisi Tentara di Sumatera (1945)
-Guru Menggambar di SMP Tebingtinggi (1945)
-TP Brigade 17 (1946-1949)
-Guru Taman Siswa di Tebingtinggi (1950-1952)
-Ketua Palang Merah Remaja di Langkat dan Ketua ASRI di Binjai (1953-1957)
-Sekretaris Veteran di Deli Serdang (1958-1959)
-Ketua Pusat Latihan Lukis Anak (PLLA)/Acara Gemar Menggambar TVRI Yogya (1969-1977)
-Penatar Guru Gambar SD Seluruh Indonesia (1980-1981)
-Pengisi Acara Gemar Menggambar TVRI Pusat (1978-sekarang)
-Mengajarkan gambar di Pasar Seni, Ancol
Pluit
-Kepa Duri (sekarang)
– Pimpinan Taman Tino Sidin, Surabaya dan Yogyakarta (sekarang)
Alamat Rumah : Taman Aries Blok D 6/9, Meruya Ilir, Jakarta Barat
Alamat Kantor : TVRI Stasiun Pusat Jakarta
About these ads

10 Balasan ke Pak Tino Sidin dan Anak-Anak Indonesia

  1. monie mengatakan:

    Sy dulu murid sanggarnya kak Alex. Ada yg tau kabar terakhirnya? TQ

  2. […] aku bisa belajar menggambar dari Pak Tino Sidin, aku bisa terlelap dengan lagu Bengawan Solo-nya Pak Gesang, di sini aku bisa menari dengan Bagong […]

  3. Julius Setiawan mengatakan:

    boleh ngga sy copy tulisan Anda untuk saya upload di facebook mengenai Pak Tino Sidin

  4. kembangbakung mengatakan:

    Pak Tino akhirnya pernah mengungkapkan dlm sebuah episode kenapa dia selalu bilang “Bagus”. Sbenarnya dia mau bilang : “Belajarlah Anak-anak, Gambar-menggambar Untuk Seni…” gitu katanya :-) dan pada episode itu ia menggambar 5 kertas kosongnya dengan dimulai huruf B-A-G-U-S. Aku paling inget cara menggambar “jamur payung” hehehe.

  5. ndo mengatakan:

    mmhhh..duh gak terlalu kenal sama pak Tino..tapi dia kayaknya menarik sangad ya…

    • isa fc mengatakan:

      aku orang jogja dan saat kecil acara pak Tino Sidin menjadi favorit. termasuk acara andalan tvri jogja selain “kuncung bawuk”, “kuncup mekar” dan kethoprak. acara dimulai dengan teknik menggambar, biasanya dimulai dari coretan sembarang dan akhirnya menjadi gambar yang indah … menjelang akhir acara: menilai gambar “…sekarang gambarnya datang dari Nurcahyo, kelas 4 SD Klegung 2, tempel, sleman. gambarnya sapi sedang membajak sawah… yak BAGUS…”

  6. […] This post was mentioned on Twitter by Reggy Lee, Hello Francesca!. Hello Francesca! said: nih Pak Tino Sidin http://bit.ly/ePed59 RT @Lee_raegie: Baby bala bala :p RT @ailave: @Furbabe yup… http://kvs.co/3UZ0 […]

  7. lini mengatakan:

    dulu kalo mo acaranya pak tino sidin dimulai…udah siap di depan tivi plus nyiapin buku gambar dan krayon…diikuti langkah-langkah gambarnya…yg aq ingat gambarnya dari angka 4 akhirnya terbentuk pak tani lg nyangkul disawah…aq rindu pak tino sidin…

  8. joni mengatakan:

    Sedih juga kalau ingat pak tino jadi terkenang bapak…saking senengnya saya dan kakak sama pak tino,waktu itu sampai dibelikan bukunya 2 jilid sama almarhum bapak.

  9. Ki Pentol mengatakan:

    Masa kecil. . . . .
    Ahhhhh. . . . . .

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: