Selain bapak mertua dan ibu mertua saya yang rajin memberikan masukan mengenai renovasi rumah kami, ada juga orang-orang yang berjasa besar membantu kami dalam merenovasi rumah kami di Pasar Minggu, yaitu para tukang bangunan.
Nah, sedikit kilas balik, kebetulan karena saya tidak menggunakan jasa konsultan konstruksi bangunan, terpaksalah saya sendiri yang menjalankan tugas sebagai pengawas alias mandor tukang. Mulai dari pekerjaan mengatur pekerjaan tukang apa saja, mengatur belanja material semen/pasir/batu/kayu dan mengatur keuangan renovasi supaya tidak jebol.

Mengatur belanja material dan mengatur keuangan renovasi itu relatif “mudah”, karena mau diapakan juga yang diatur pasti nurut-nurut saja, tidak protes, lha wong namanya juga benda-benda mati. Nah kalo mengatur tukang – yang notabene bukan benda mati – itu gampang-gampang susah! Pertama, kemampuan para tukang itu berbeda. Ada yang hebat dalam kerjaan batu, ada yang canggih masalah perkayuan dan lain sebagainya. Kata orang bilang: tempatkanlah orang yang tepat pada posisi yang tepat, maka hasilnya pasti akan dahsyat. Ini berlaku juga dalam masalah atur-mengatur tukang. Kerjaan tukang batu berbeda sekali dengan kerjaan tukang kayu, kalau tukang batu dipaksa mengerjakan pekerjaan tukang kayu hasilnya pasti amburadul, demikian juga sebaliknya. Pengenalan keahlian dan kemampuan tukang serta pendistribusian kerja berdasarkan kemampuan sangatlah penting.
Ditulis oleh webywebyweby
Ditulis oleh webywebyweby