Haji diri sendiri atau orang tua dahulu?

25 Januari 2013

Tulisan ini diilhami oleh diskusi dengan teman-teman dan diambil dari berbagai referensi.

Ibadah haji adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Jika kita mempunyai kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, maka kita sudah terkena ketentuan hukum itu. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika orang tua dan kita sendiri sama-sama belum pernah berhaji? Lebih baik orang tua atau kita dahulu yang berhaji? Sedangkan kemampuan keuangan kita sendiri saat ini mungkin terbatas.

Secara prinsip, kita berkewajiban untuk berangkat haji apabila mampu, meskipun orangtua kita belum pernah haji. Orang tua kita tidak terkena dosa apabila meninggal dunia dan belum melaksanakan ibadah haji karena tidak mampu.

Bahwa menghajikan orangtua termasuk bakti yang sangat utama, mulia, dan sangat dianjurkan, itu benar. Tetapi bahwa lebih baik mendahulukan menghajikan (menanggung biaya haji) orangtua daripada menghajikan diri sendiri, saya tidak berani mengiyakannya. Sebab naik haji termasuk rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu. Sementara menghajikan orangtua termasuk salah satu bentuk bakti anak kepada orangtua yang bersifat sangat dianjurkan, namun masih banyak sekali bentuk-bentuk bakti anak kepada orangtua selain menanggung biaya hajinya.

Hemat saya, mengerjakan apa yang menjadi kewajiban kita (dalam hal ini menghajikan diri sendiri) harus lebih didahulukan daripada yang tidak wajib (menanggung biaya haji orangtua). Terlepas dari penilaian kita sendiri bahwa orang tua dianggap sudah lebih “pantas” berhaji karena pelaksaan ritual ibadahnya yang mantap. Yang dikhawatirkan adalah kita bisa berdosa jika kita – katakan – meninggal dunia dan belum melaksanakan haji, sementara kita sudah mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya.

Lagipula, jika orang tua memang meninggal sebelum sempat berhaji, kita sebagai anaknya masih bisa menghajikan orang tua dengan mewakilinya berhaji yang disebut “badal” (kita yang berangkat ke tanah suci, tapi niat hajinya untuk orang tua). Badal sendiri mensyaratkan bahwa orang yang melaksanakan badal sudah pernah berhaji, lebih afdol lagi jika badal dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah.

Wallahua’alam.


Jaringan Komputer di Rumah Saya

14 Juli 2012

Akses internet adalah salah satu kebutuhan saya dan istri. Keperluannya macam-macam, untuk transfer lewat i-banking, belanja online (Amazon, eBay), baca berita di situs berita lokal, facebook-an, lihat film di Youtube, download game, dlsb.

Kebetulan kami sudah terlanjur menggunakan Telkom Speedy semenjak kami menikah tahun 2006 dan numpang di rumah mertua. Waktu itu alternatif akses internet yang handal dan cepat belum sebanyak sekarang, Speedy pun ketika itu tidak terlalu baik juga. Semenjak menikah kami punya 1 laptop hasil tabungan dengan feature Wireless LAN/WLAN (LAN = local area network). WLAN ini lebih dikenal masyarakat umum sebagai WiFi. Supaya praktis, saya membeli satu modem ADSL dengan kemampuan WiFi, pilihan jatuh pada merek D-Link dengan model 2640T, bentuknya seperti ini. Sekarang sepertinya modem ADSL tipe ini sudah diganti dengan model yang lebih baru.

GambarGambar ADSL Modem dengan Wireless LAN (D-Link 2640T)

Dengan menggunakan ADSL modem + router yang punya feature WiFi-nya, saya tidak perlu repot-repot narik kabel, meng-crimping terminasi kabel LAN. Selain itu, dengan koneksi WiFi mengakses internet lebih fleksibel dari berbagai tempat di rumah seperti di kamar, ruang tamu ataupun teras rumah. Perkiraan sih jangkauannya bisa 15-20 meter, namun kualitas sinyal makin jelek jika jarak semakin jauh dengan ADSL modem dan router.

Baca entri selengkapnya »


Tips Belanja Online di Indonesia

14 Agustus 2011

Belanja melalui internet atau belanja online sudah menjadi fenomena umum di dunia dan tentunya di Indonesia. Saya termasuk “korban” (atau “pelaku”?) belanja online, terutama karena saya mempunyai hobi kereta model yang barang-barangnya tidak mudah didapatkan di Indonesia. Situs paling cepat perkembangannya dan luar biasa di Indonesia adalah situs Kaskus, yang sempat menghebohkan dengan penangkapan seller kaskus oleh polisi gara-gara menjual iPad 2 tanpa manual berbahasa Indonesia. Namun, banyak juga barang-barang yang tidak bisa didapatkan di Kaskus dan harus berburu sampai ke toko online di luar Indonesia.

Baca entri selengkapnya »


Tempat Isi Ulang Baterai Ha-Pe

17 Juni 2010

Sore ini saya di Bandara Hang Nadim Batam dan sudah mulai kehabisan baterai handphone (atau biasa kita ucapkan ha-pe, bukannya eich-pi) padahal lagi ga bawa charger. Gawat, gimana ya? Untunglah tempat isi ulang baterai hape sudah ada di mana-mana. Akhirnya dapat di salah satu executive lounge di bandara tersebut. Cari colokan yang cocok, jebret!! beres deh..

Tempat isi ulang ini bisa untuk isi ulang berbagai merek hape, dari nokia, siemens, sony ericsson, dlsb jadi ga perlu repot-repot bawa charger sendiri dan bingung nyari colokan listriknya. Lokasi di tempat umum seperti di pasar swalayan, bandara, terminal dan tempat-tempat lainnya.

Yang lebih enak lagi layanan isi ulang ini sifatnya gratis, tetapi ada resikonya. Tanggungjawab pengawasan hape ada pada pemilik hape itu sendiri dan bukan pemilik tempat isi ulang. Suka dikasih peringatan yang isinya kira-kira kayak gini “hati-hati! awasi hape anda, nanti disikat orang lho!”

Lalu untungnya apa isi ulang ini buat yang menyediakan? Secara langsung tidak ada. Kalau dilihat-lihat sih sebenarnya pengelola tempat umum hendak menunjukkan perhatian kepada kebutuhan pelanggannya sehingga pelanggan semakin nyaman berada disana. Bukankah pelanggan adalah raja? Selain itu tempat ini bisa dijadikan potensi tempat beriklan, terutama perusahaan penyedia layanan telekomunikasi.

Sekarang karena kecenderungan lebih banyak orang menggunakan hape daripada telepon umum, malah pemerintah Austria sedang menguji coba pengubahan fungsi telepon umum menjadi tempat isi ulang baterai hape hihihi… klik disini untuk lihat beritanya.


Tesis Kuliah, Pekerjaan, Bisnis Sampingan dan Hobi

15 Juni 2010

Banyak sekali topik yang dibahas kali ini. Ya, biar menghemat waktu mengetiknya hehe.

Tesis kuliah S2 memang benar-benar bikin pusing tapi paling tidak sudah ketemu titik terangnya dimana harus berfokus. Topik tesis berkutat sekitar pencarian kondisi operasi yang cocok untuk mengirimkan volume gas yang besar melalui unit pendinginan dan unit fraksionasi dengan karakteristik unik dari masing-masing unit. Masalahnya memang ada pada cara kerja secara umum antara turbo ekspander dan kompresor, serta perhitungan secara eksak hubungan antara keduanya supaya bisa dikarakterisasi sesuai dengan cara kerja aslinya. Selama ini yang dipelajari di kuliahan atau di kursus-kursus (belum pernah ikut kursus Simulasi Proses sih) menggunakan pendeskripsian cara kerja kompresor atau ekspander yang generik. Langkah selanjutnya adalah bikin analisis sensitivitas untuk mengetahui kecenderungan pengoperasian kompresor & ekspander dalam batas-batas tertentu dan menentukan limitasinya.

Mengenai pekerjaan, bulan ini cukup padat jadwal ke lapangan. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di lapangan dan memakan banyak waktu di sana. Mengawasi pekerjaan kontraktor, mengkoordinasi kegiatan dengan kawan-kawan dari operasi lapangan, mengkoordinasi mobilisasi wakil pemerintah dan merencanakan pekerjaan selanjutnya. Belum lagi tambahan pekerjaan baru dari bos yang sifatnya memerlukan penanganan dengan segera karena sudah mencapai level atas. Lumayan lah, otak tidak sempat nganggur, mudah-mudahan cukup istirahat setelah nanti lama di lapangan.

Bisnis sampingan yang baru adalah jualan buku secara online. Buku! Sesuatu yang saya senangi semenjak kecil untuk dibaca atau sekedar dikoleksi untuk kapan-kapan dibaca. Ini sebenarnya terkait dengan hobi sih, hobi kereta api model berskala. Awalnya iseng-iseng saja di milis menawarkan majalah kereta model dengan harga miring, lama-lama setelah diriset langsung ke pasar: berkunjung ke toko buku besar, lihat harga, ketersediaan stok, dll, diputuskan untuk  bikin toko buku online yang khusus melayani hobyist kereta model atau kereta api beneran. Pasarnya sempit sekali dan tidak ada saingan. Tidak ada saingannya bukan karena tidak menarik, tetapi lebih karena orang bisa beli lebih murah kalau langsung ke luar negeri. Tetap saja, toko buku macam Kinokuniya dan QB bisa hidup toh meskipun mereka jual buku impor di Indonesia. Berarti pasarnya ada namun kecil atau tidak tergarap. Ya sudah dan Alhamdulillah sudah dapat beberapa pelanggan. Meskipun sedikit, harus ditelateni untuk bisa menghayati bisnis ini lebih dalam. Silahkan klik disini kalau penasaran toko online-nya seperti apa. Bisa juga googling dengan kata kunci “jual buku kereta model”, mestinya website toko saya ada di urutan paling atas.

Hobi baru yakni kereta model memang hobi dari kecil, bedanya buku lebih terjangkau daripada kereta model hehe. Sekarang berhubung ada duit lebih, sudah mulai nyicil beli lokomotif, gerbong, rel dan sistem pengendalinya. Lumayan mengasyikkan, tapi saking mengasyikkannya sampai tesis bisa terbengkalai. Gawat! Sementara ini sampai wisuda, hobi ini distop dulu sampai tesis S2 bisa selesai. Tidak lama lagi lah, sampai Agustus.

Thanks to my beautiful angel, my wife, who has been supporting and encouraging me to do all this works.


Rumah Minimalis yang ternyata tidak Minimalis

7 Juni 2010

Istilah “rumah minimalis” memang menyesatkan kalau dipikir benar-benar. Yang minimal apanya? Tampilannya? Harga belinya? Biaya perawatannya? Atau penggunaan energinya. Sejauh yang saya lihat dan rasakan rumah minimalis itu masih seputar tampilannya yang tidak terlalu banyak pernak-pernik. Lainnya sudah bisa dipastikan tidak minimalis.

Hari Minggu kemarin saya, istri dan anak-anak berjalan-jalan pagi di komplek rumah dan iseng-iseng berkunjung ke salah satu komplek townhouse dekat rumah kami. Ada beberapa townhouse di daerah rumah kami dan townhouse yang ini sepertinya belum pernah kami kunjungi. Kenapa kok dikunjungi? Mumpung masih fase pembangunan, biasanya orang luar komplek townhouse diperbolehkan masuk dengan harapan bakal dibeli, padahal kami hanya ingin cuci mata, penyegaran atau hanya ingin tahu perkembangan seputar pengembangan rumah hehehe.

Seperti layaknya konsep rumah minimalis pada umumnya, konsep penghematan energi tidak digubris. Akibatnya penggunaan listrik pasti tinggi. Sirkulasi udara misalnya, asalnya memang didesain menggunakan AC, sehingga peranan udara luar tidak dimanfaatkan. Belum lagi banyak jendela berukuran besar-besar. Memang sinar matahari bisa mengurangi penggunaan lampu, tapi penggunaan AC malah justru malah semakin intensif. Belum lagi material yang digunakan juga karena sedang trend, sehingga hukum supply-vs-demand berlaku, harganya bisa menjadi lebih mahal. Perawatan? Sama saja. Struktur rumah minimalis yang pada umumnya jangkung membuat perawatan menjadi sulit untuk mencapai bagian-bagian tertentu yang potensial kotor. Belum lagi kalau suka bermain dengan warna-warna cerah, dijamin bongkok deh ngebersihinnya.

Lho, kok komentarnya negatif semua sih masalah rumah minimalis? Mentang-mentang ga punya rumah minimalis ya? Hehehe.. Bukan kok, hanya heran saja sama orang-orang yang mampu beli rumah minimalis. Biaya yang sebegitu besarnya harusnya bisa untuk membuat rumah yang sama indahnya, tapi lebih hemat konsumsi listriknya, mudah perawatannya dan sirkulasi udaranya lebih sehat (tidak terus menerus pakai AC). Ujung-ujungnya biaya operasional rumah juga kecil sehingga rumah tidak lagi menjadi beban keuangan pribadi atau keluarga.

Lha kalau memang orangnya mampu bagaimana? Bukan masalah mampu/tidak mampu, tapi kalau ada kelebihan duit bisa dipakai hal-hal lain juga toh pada akhirnya. Semoga jargon “minimalis” ini bisa diperbaiki dengan jargon lain yang lebih mengutamakan aspek biaya operasional rendah, ramah lingkungan dan nyaman ditinggali oleh penghuninya.


Pasrahkanlah…

10 Maret 2010

Saya pergi ke kantor tiap hari bisa berganti moda. Terkadang sepeda kayuh, sepeda motor atau mobil. Tergantung cuaca dan barang bawaan. Sudah beberapa hari ini bawa sepeda motor terus ke kantor.

Seperti biasa, tiket parkir selalu ditaruh di saku depan. Cuma kadang-kadang beresiko juga ditaruh di saku depan karena bisa jatuh ketika id badge ditaruh disaku (saya memakai id-badge model kalung dan dicantolkan di saku depan supaya tidak menggantung ketika sholat).

Memang akhirnya pernah hilang beneran. Prosedur pelaporannya ribet banget. Mulai tanda pengenal (KTP/SIM), ngisi formulir kehilangan,  bayar denda dan bayar parkir juga. Ada sekitar 10 menit nungguin petugasnya menyelesaikan semuanya. Pegel nungguinnya.

Kebiasaan naruh tiket parkir di saku depan tetap saya lanjutkan. Eeeeh… ternyata hilang lagi. Wuadhuh, jadi teringat keribetan kehilangan tiket ketika itu. Langsung cari di meja kantor, di lantai kantor, di tempat sholat, di kamar mandi.. semuahnya nihil. Langsung lemes dan akhirnya dalam hati saya berdoa kepada Tuhan sambil memasrahkan diri sembari percaya bahwa tiket itu akan dikembalikan ke saya entah bagaimana caranya.

Tidak ada keajaiban terjadi setelah saya berdoa. Ya sudah, siap-siap kemasi tas dan berjalan gontai menuju lift. DUAARR!!!! Bagaikan disambar geledek ketika saya melihat ada secarik tiket parkir tergeletak di lantai lobby lift. Alhamdulillah, ternyata begini ya hasilnya kalau pasrah dan percaya kepada Tuhan…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.