Band Dangdutku

Rasanya kalau ada lagu dangdut lagi diputer, beragam komentar mulai dari “duh, ga mutu banget sih”, “apa ga ada lagu lain?”, “kampungan ah!”, sampai yang paling sinis “lebih baik gue nenggak baygon deh daripada dengerin ginian”. Kebanyakan lagu dangdut memang syairnya sederhana, pake bahasa pasaran, seringnya mudah ditebak akhirnya dan menggambarkan keseharian masyarakat lapisan bawah. Meskipun begitu, lagu dangdut tuh ternyata tetap mempunyai efek yang tak terbantahkan: membuat suasana yang kaku menjadi lebih akrab dan cair. Ini adalah cerita pendek seputar terbentuknya band-dangdut-ga-jelas yang mana saya ikut didalamnya.

music.jpg

Syahdan suatu ketika, saya sering nongkrong dikantor Doni dan Rasta di Bandung. Mereka dulu sahabat waktu kuliah dan mereka sudah buka usaha sendiri sekarang. Kantornya tuh funky banget, ngerokok bisa disembarang tempat, main internet bisa seenak udel, genjrang-genjreng gitar dan ketipung sesuka hati, leyeh-leyeh sampai tiduran di karpet kantor juga boleh, pokoknya sagala aya deh.. Pikir-pikir daripada nganggur, coba-coba main gitar sambil diiringi ketipung biar agak rame. Cuma yang cocok ya kok lagu dangdut. Jelas saja, lha wong pake ketipung kok. Genjrang-genjreng, dapat 1-2 lagu, berhenti trus ketawa-ketiwi. Beli mie di jalan Dago, trus pulang ke rumah kontrakan, bangunnya baru siang hehehe, ga mutu banget deh…

Suatu ketika (lagi-lagi suatu ketika) ada acara Alumni Gathering yang menyajikan acara musik dan pementasan lain. Semua alumni boleh nyumbang acara, tentunya alumni per angkatan. Wah, boleh juga nih kalo ikutan ngeramein, meskipun ga jelas siapa mau mainin alat musik apa dan lagu apa.

Sambil ngelamun, saya coba menganalisis kemampuan tim yang sudah ada. Doni (asal Malang) bisa gitar, tapi dia yang paling tahan malu, cocok lah jadi vokalis, meski suaranya pas-pasan. Maksudnya kalo pas dapet nada tinggi, suaranya pas fals hihihi. Rasta (asal Singaraja) main gitarnya lumayan, paling pemalu, ga bisa nyanyi karena terpengaruh kehidupannya yang cukup ndeso di desa Gerokgak. Jelas susah jadi backing vokal apalagi vokalis, ya wis, jadi gitar rhythm aja. Saya? kalo gitar juga malah ga rame, ya udah berkorban deh main ketipung, meskipun sampai saat itu belum punya ketipung dan belum bisa mainnya. Pikir-pikir masih kurang nih anggotanya, yang jadi gitar melodi dan bass masih belum ada.

Kalo dilihat-lihat, kemampuan teknis kami sih biasa saja. Yang kami khawatir, kalau lagunya standar band kayak rock, pop, klasik mah udah biasa dimana-mana juga. Kami ga pengen biasa-biasa aja, kami pengen lagu yang riang gembira, membuat orang lain juga gembira, bisa dinikmati kalangan mana saja dan secara teknis lagunya sederhana. Kalau lagu-lagunya Naif, meski riang gembira, tapi vokal dan teknis gitarnya sering susah diikuti, terlalu tinggi bok. Kalau lagu-lagu pop yang lagi hit, jadi standar banget. Dipikir-pikir, sebaiknya mungkin kami main musik campuran, ada pop, dangdut dan lain-lain yang mudah dimainkan tapi syairnya diubah sedikit supaya “terasa dekat” dengan audiens. 

Coba kontak Edwin (asal Bandung), jawara gitar Jazz satu angkatan saya waktu kuliah. Mengejutkan! Dia mau main meskipun lagunya “cuma” dangdut dan pop. Hebat, hebat. Telpon lagi satu orang si Mei (asal Bandung), dia juga penggila Jazz dan pemain gitar bass yang oke. Mengejutkan lagi! Dia mau coy… Komplit deh jadinya.  

Ya udah, diset lagu-lagunya dan aransemen musiknya. Berhubung temanya alumni gathering, tentunya syair musik yang nyerempet alumni gathering yang paling masuk. Tentu saja susah ya nyari lagu yang pas. Saya gubah sendiri syair dari lagu “Take Me Home Country Road”-nya John Denver menjadi “Welcome Home Alumni”. Warna musiknya tetap country, tapi syairnya bahasa Indonesia. Lagu kedua, menggubah lagu “Semua Bisa Bilang”-nya Wayan Balawan, jadi “Semua Bisa Nyumbang TF-1000”. Tetap mendayu-dayu tapi keren bok. Lagu ketiga, wah capek deh ngegubah itu ternyata. Akhirnya pilih lagu “Katepe Babe” dari Pemuda Harapan Bangsa (PHB), asli tanpa digubah-lagi karena sudah cukup lucu dan dangdut pol hehehe.

lagi latihan

Foto-1. Kiri ke kanan: Doni lagi ngakak, Rasta nggenjreng gitar, Edwin memeluk gitar. Foto-2. Kiri ke kanan: Mei lagi serius metik senar basnya, Weby lagi belajar nabuh ketipung.

Latihan pertama di Bandung, tepatnya di rumah Edwin di Tubagus Ismail. Tersendat-sendat pada awalnya karena ga pernah main bareng sebelumnya. Apalagi untuk saya, saya ga pernah main ketipung sebelumnya, masih coba-coba memasukkan irama ketipung kedalam lagu. Pelan-pelan satu-persatu lagu yang kami mainkan mulai kelihatan arahnya, sudah mulai banyak nyambungnya. Lama-lama jadi asyik karena sudah pada mulai kompak! Terbatas banget waktu latihannya, kami hanya punya waktu latihan satu kali ini dan berikutnya pas Hari-H. Bener-bener mepet persiapannya, tapi kami tetap PD, maklum lah bermodal nekat hehehe.

Ada yang kurang? Ya, kostum! Kami ingin kostumnya sesuai dengan hati kami yang riang gembira. Paling cocok sih baju Hawaii dan topi pantai. Tahu ga, ternyata di Jakarta dan Bandung sulit sekali cari toko yang jual baju Hawaii. Padahal kalau kita di Bali atau Yogyakarta kok rasa-rasanya gampang banget ya dapet baju Hawaii. Pikir-pikir, kita coba kontak Angga (asal Denpasar) teman seangkatan kami, mungkin dia bisa bantu kami. Angga sudah 2 tahun belakangan ini sudah bekerja dan menetap di Denpasar, kota kelahirannya. Salah satu dari teman kami yang balik kampung setelah lulus kuliah. Oho! Rupanya dia sangat gembira membantu kami.

Info intelejen dari Angga live di Bali, satu kemeja Hawaii harganya Rp. 25.000,-. Hitung-hitung kebutuhan baju, anggota band sendiri berjumlah 5 orang. Supaya acara lebih rame, kami menyiapkan beberapa supporter yang perlu diberi kostum juga, jadinya kami beli 10 kemeja. Pengirimannya? Tak perlu khawatir menunggu terlalu lama. Info intelejen dari Angga lagi, katanya ada bus malam Denpasar-Bandung yang bisa dititipin paket kemeja Hawaii dengan ongkos yang sangat murah dan cepat, cukup satu hari satu malam sudah nyampe Bandung. Great! Kami cukup pede tampil deh akhirnya..

Kami sudah menyiapkan lagu pengiring ketika kami naik panggung, yaitu theme song-nya CHIPS! Tahu CHIPS kan? Itu lho, serial televisi jaman kita masih kecil yang mengisahkan polisi patroli sepeda motor. Lumayan rame lah waktu kita naik panggung, audiens yang mulanya pada bercakap-cakap sendiri malah jadi menoleh melihat kenorakan, keributan dan kekatrokan kami naik panggung.

Tak disangka dan tak diduga, penampilan Band Dangdut TF98 ini benar-benar membuat suasana Alumni Gathering menjadi sangat meriah!!! Banyak alumni tertawa-tawa, serius melihat penampilan kami dan bahkan bertepuk tangan keras-keras atas penampilan dan lagu kami yang tak biasa. Seneng juga sih melihat penonton bisa terhibur. Dibawah ini salah satu foto penampilan kami. Lihat si Doni pake topi bulu berwarna merah menyala! Hahaha.

manggung

Tak disangka dan tak diduga (lagiiih!!) temen-temen sesama TF98 menyoraki kami supaya kami bertambah semangat. Weleh weleh weleh…. Thanks banget prens! Sangat sangat ditunggu-tunggu tuh dukungannya… Habis manggung, kami makan-makan sambil ketawa-ketiwi, ngobrol-ngobrol, melepas kangen sesama TF98, sambil bernapas lega sudah tidak berada dipanggung. Maklum, artis dadakan. Ga siap jadi terkenal rupanya hahaha! Dibawah ini band TF98 dan suporter TF98 yang hadir.

belakang panggung
rame2

Well, friends… mau manggung dimana lagi nih kita?🙂

3 Balasan ke Band Dangdutku

  1. bowo mengatakan:

    :)) ya amplop…

    btw, SELAMAT ULANG TAHUNNNNNNNNNNNNNNN
    aku mau sms nomormu ganok scr nomormu di hape ku yang ilang hehehe

  2. doni mengatakan:

    Hehehe….
    wah… mas Weby nih bisa aja. tapi seneng banget ni gw… memang moment-moment seperti ini nggak akan cukup kalau cuman didokumentasikan dengan selembar…eh.. sejumput..mm.. se apapun lah…file foto digital doang. Dengan tambahan kalimat pengantar dan cerita2 ringat, pas laah kalao tulisan diatas menjadi bukti otentik kebersamaan dan keakraban kita di masa-masa jahiliah…

    ah.. jadi pengen kuliah lagi..🙂

    Setahun demi setahun ngga sadar kalau usia juga bertambah… kewajiban dan tanggungan kita masing-masing tentu juga semakin berlipat… tetapi tentunya tidak akan pernah mengurangi semangat kita untuk maen dangdut lagi… heyaaa….dut dut dut…

    Ayo Ayodya… kamu jangan ketawa aja… goyang dooong bareng om DOni!! :-*

    weby: serius nih pengen kuliah lagi? hehehe… ayo nyok!! kita maen dangdut lagih!!!

  3. eko mengatakan:

    surabaya di daerah mn yang ada persewaan baju2 hawaii
    cz gw lagi bth 200 baju hawaii tersebut
    tolomg informasinya ya
    thanxzz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: