Psikologi Lift dan Psikologi Batuk

Tulisan ini dulu pernah beredar di milis, tetapi dicari-cari ga ketemu juga. Ya wis, saya tulis versi saya sendiri.

Psikologi Lift

Sudah sangat umum bahwa gedung-gedung perkantoran di Jakarta dan kota-kota besar lainnya memiliki lift. Lift yang umum kita temui biasanya mampu menampung 10-15 orang sekaligus. Dari sekian banyak orang yang tertampung di dalam lift, kadang-kadang kita mengenal sebagian besar orang yang ada di dalam lift, bisa juga malah tidak kenal sama sekali.

 

Meskipun demikian, ada suatu tingkah laku dari orang-orang yang menunjukkan bahwa “komposisi manusia” didalam lift itu serupa di gedung manapun terlepas dari semua orang saling kenal atau tidak mengenal sama sekali. Maksud “komposisi manusia” itu adalah posisi orang-orang berdiri didalam lift dan komposisi ini akan bergantung dengan jumlah penumpang lift yang berbeda. Boleh percaya atau tidak, seolah-olah komposisi manusia itu mengikuti suatu aturan baku.

Berikut yang saya amati dan lihat sendiri.

1. Terdapat 1 orang di didalam lift

Jika hanya ada satu orang di dalam lift, maka posisi orang tersebut tidak tentu. Terkadang di dekat papan tombol lift, terkadang di tengah menyandar ke dinding lift, atau terkadang mojok.

2. Terdapat 2-3 orang didalam lift

Jika ada 2-3 orang didalam lift, maka posisi orang-orang akan cenderung mengambil jarak yang cukup jauh atau terjauh. Misal: 1) yang satu menempel pada dinding lift sebelah kiri, yang satu menempel pada dinding lift sebelah kanan, jika ada orang ketiga dia akan merapat pada dinding lift yang lain. 2) yang satu didekat tombol lift (pojok), yang satunya berdiri dipojok lain yang terjauh, jika ada orang ketiga dia akan memilih pojok yang lain. Jika satu sama lain saling mengenal, posisinya akan sama tetapi berbicaranya bisa dengan suara sedang ataupun pelan, bahkan terkadang percakapan yang seru dan panjang bisa terjadi.

3. Terdapat 4-10 orang didalam lift

Jika ada 4-10 orang didalam lift, maka posisi orang-orang akan cenderung menyebar dengan merata. Jika tidak saling mengenal satu sama lain, lift akan menjadi sunyi dan tatapan semua penumpang lift menuju angka penunjuk lantai. Kalaupun ada beberapa orang saling mengenal dan bertemu didalam lift, biasanya pembicaraan hanya basa-basi dan tidak berlanjut panjang. Lebih dari 10 orang, biasanya suasana lift akan sunyi senyap.

Percaya atau tidak, psikologi lift nomor 2 dan 3 itu akan terjadi dengan sendirinya, tidak ada yang mengatur. Jika ingin melawan “hukum komposisi manusia didalam lift” ini, lakukan percobaan kecil berikut. Cobalah naik lift dengan isi beberapa orang yang tidak dikenal (misal: 5-8 orang), kemudian berdirilah dengan posisi membelakangi pintu lift (menghadap berlawanan arah dengan semua orang), menatap semua yang ada di lift dan sedikit meringis, dijamin anda akan dianggap seram! hihihi.

Psikologi Batuk

Nah, yang ini lain lagi, mengenai “psikologi batuk”. Ini sempat saya amati meski tidak lama. Psikologi batuk ini sederhana saja. Seringkali kita ikut dalam suatu aktivitas yang dilakukan bersama banyak orang disuatu ruangan tertutup dan aktivitas ini biasanya tidak menuntut banyak suara. Aktivitas itu misalnya rapat departemen, sholat berjama’ah, khotbah di gereja, seminar, dlsb. Kadang-kadang kita mendapatkan suara batuk-batuk seseorang, entah siapa, dan batuk ini memicu orang lain untuk ikut batuk juga beberapa saat kemudian. Entah kenapa, kadang batuk lain juga ikut muncul, muncul dan muncul, meskipun waktunya tidak saling berdekatan.

Lagi musim batuk kah? Atau banyak debu di ruangan itu? Tidak jelas juga, terkadang hanya ingin melegakan tenggorokan, terkadang hanya iseng, terkadang memang batuk beneran. Apakah ada yang mengatur batuk? Hmmm.. ga tau deh. Yang jelas, selamat mencoba!

6 Balasan ke Psikologi Lift dan Psikologi Batuk

  1. ari3f mengatakan:

    psikologi batuk – pendengaran
    psikologi menguap – penglihatan

    kalau psikologi ngentut – sumbernya: suara, dan bau. indera: pendengaran dan penciuman? ada gak ya penjelasannya? hehehe …

  2. Zorie mengatakan:

    Salam Skull2,
    Web2, gw sempet bingung ada apa nih orang tau2 sms tanya no hp nova.
    ternyata oh ternyata kelian mau ber-konsinyasi tho.
    pertanyaan gw, no yg kemaren gw kasih masi valid nda?
    tampan2 gini gw sempet ngeblog..meskipun gak aktif lagi krn kesibukan😦
    yo weis tho..semoga gw bisa berkontribusi buat blog-nya tukang intsrument
    Salam suxesss,

    Zorie

  3. galuyung mengatakan:

    Yang penting perlu dibahas juga mengenai psikologi kalau orang naik lift sendirian takut kena lift macet. Juga bagaimana psikologinya kalau terjebak sendirian dan terjebak rame2.

    Salam, Selamat membahas.

  4. rorizki mengatakan:

    huhauuah .. dapat juga nih blog yang ngebahas lift2an ..
    emang ada gitu psikologi batuk??? kok aneh ya ..
    btw, maen2 ke blog saya jg ya .. hehe peace

  5. adis mengatakan:

    sebagai makhluk sosial…. fitrah itu …

  6. ahmad fathoni mengatakan:

    psikologi semacam it emang ada, namanya psikosomatik. psikologi yg dikaitkan dengan keadaan fisik, misalnya menguap karna org disebelahnya menguap,
    menggigil kedinginan ketika badan demam mungkin karna psikologi “kesepian”.
    kalo batuk kan karna tenggorokan gatal, nha tenggorokan gatal itu karna psikologi apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: