Dapat Beasiswa

Dulu ketika saya sekolah SD, SMP dan SMA tidak pernah sekalipun saya mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari pihak lain selain dari orang tua. Pun beranjak kuliah saya diwanti-wanti oleh orang tua saya untuk tidak mengambil beasiswa dari pihak mana pun. Karena orang tua saya berjanji untuk membiayai sekolah saya sampai lulus S1, tentu saja saya menuruti permintaan mudah ini. Lagipula, saya juga tahu diri kok. Dengan prestasi akademik saya yang sangat biasa-biasa, sepertinya penyedia beasiswa juga segan melirik ke saya. Jangankan melirik, berpikir untuk melirik saja mungkin tidak pernah hahaha!

Pada awalnya saya tidak mengerti maksud atau tujuan orang tua saya tidak membolehkan saya menerima beasiswa. Ketika sudah lulus kuliah dan kemudian bekerja di Jakarta selama beberapa tahun serta merenung cukup lama, saya baru ‘ngeh’. Rupanya orang tua saya mempunyai prinsip: “selama masih mampu membiayai sendiri, orang tua akan terus membiayai anak sampai lulus sarjana”. Rupanya orang tua saya tidak menginginkan saya mendapatkan beasiswa sementara ada orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan pendidikan malah tidak dapat beasiswa, padahal tanpa beasiswa pun saya masih bisa sekolah. Ini namanya merenggut kesempatan orang lain untuk maju.

Alhamdulillah, 3 bulan setelah bapak saya pensiun, saya dapat lulus sarjana dengan nilai sedang. Kewajiban orang tua saya untuk membantu biaya pendidikan saya berhenti sampai disini.  Kedua orang tua saya cukup lega setelah saya mendapatkan pekerjaan yang mampu menghidupi saya sendiri dan tidak bergantung pada orang tua lagi.

Ketika awal bekerja, ternyata bekerja itu “menyenangkan” lho! Menyenangkan dalam artian tidak ada ujian-ujian yang mengharuskan menghafal konsep dan rumus-rumus, praktikum serta membuat laporan. Jadi stress setiap 6 bulan hilang sudah! Hihihi. Bekerja itu sebenarnya tidak beda dengan kuliah, mengerjakan sesuatu yang rutin. Bedanya, kalau bekerja kita di gaji, sedangkan kuliah kan enggak.

Time goes by, beberapa tahun sudah berjalan setelah saya lulus dan bekerja di Jakarta. Ada kerinduan juga dengan suasana belajar di kampus. Tidak hanya itu, persaingan kerja yang semakin hari semakin keras (menurut saya lho) menuntut keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi untuk bisa survive serta mempertahankan diri saya dalam zona “orang yang dicari” oleh industri.

Tentunya saya sadar diri bahwa untuk kuliah lagi itu kecil sekali kemungkinannya. Pertama, dari sisi biaya. Saya hidup tidak sendiri lagi, sudah ada istri dan anak (apalagi anak udah mau nambah lagi nih!). Mereka tentunya harus saya nafkahi, ga mungkin lah minta bantuan sama orang tua. Akan berat sekali jika saya kuliah lagi.

Kedua, dari sisi karakter diri. Pada dasarnya setelah menilik grafik kehidupan pendidikan saya semenjak SD sampai Perguruan Tinggi, saya tidak pernah benar-benar berprestasi, cenderung biasa-biasa saja. Bahkan setelah saya renungkan cukup dalam, saya tidak cocok untuk belajar di institusi formal. Saya perhatikan, hanya pada sebagian kecil subyek pelajaran tertentu benar-benar saya senangi, sebagian besar berlalu seperti angin. Berbeda dengan ketika bekerja, saya merasa mendapat energi lebih untuk mempelajari banyak hal, asalkan mendukung apa yang saya kerjakan. Itupun tidak terlalu dalam dan kadang angin-anginan. Saya justru merasa lebih “berprestasi” dalam pekerjaan ketimbang ketika menjalani pendidikan.

Keadaan mulai berubah ke titik terang, setelah medio 2007.

Perusahaan tempat saya bekerja mempunyai sebuah program bantuan biaya pendidikan bagi karyawan atau disebut sebagai Employee Education Assistance Program (EEAP). Saya sendiri menyebutnya beasiswa perusahaan. Program ini sebenarnya sudah rutin diadakan semenjak lama, tetapi baru-baru saja saya ngeh-nya. Program ini menawarkan bantuan biaya pendidikan bagi karyawan yang hendak meneruskan pendidikan ke jenjang sarjana madya (D3), sarjana (S1), master (S2) ataupun program sertifikasi keahlian. Program ini bertujuan mendongkrak strata pendidikan dan keahlian karyawan perusahaan tempat saya bekerja. Setiap tahun, perusahaan membuka dua siklus pendaftaran beasiswa. Siklus pertama di awal tahun, siklus kedua di tengah tahun.

Nah, ini boleh juga dicoba. Iseng-iseng berhadiah!

Tunggu dulu… Rupanya persetujuan mendapatkan beasiswa perusahaan ini cukup berliku. Sebagai langkah awal, saya harus menyiapkan dokumen-dokumen resmi untuk pengajuan beasiswa seperti Individual Development Program (IDP). Di dalam IDP harus dideskripsikan tujuan kontribusi karyawan terhadap perusahaan secara umum, bagaimana cara mencapainya, kelebihan & kekurangan yang dimiliki karyawan, posisi profesional/struktural apa yang ingin dicapai karyawan dalam 3-5 tahun ke depan. IDP ini harus disetujui oleh supervisor langsung dan Manager departemen disertai dengan komitmen untuk melaksanakan IDP.

Kemudian karyawan diharuskan melengkapi formulir pengajuan beasiswa yang berisikan data diri karyawan, strata pendidikan & program pendidikan apa yang hendak diambil, biaya pendidikan, disertai dengan alasan kenapa harus sekolah lagi. Formulir ini harus disetujui oleh Manager, Senior Manager dan Vice President. Dokumen lainnya adalah dokumen kurikulum program pendidikan, akreditasi penyelenggara program pendidikan berdasarkan Badan Akreditasi Nasional, dan detil biaya program pendidikan. Khusus untuk karyawan yang akan mengambil master atau S2, diharuskan mengisi formulir lain yang berisikan pendapat supervisor dan manager terhadap upaya karyawan meneruskan pendidikan S2. Formulir ini harus mendapatkan persetujuan Manager, Senior Manager dan Vice President.

Fiuuh!! Banyak juga dokumennya. Tapi gapapa, namanya juga nyari sekolah S2 gratis, harus berjuang dong. Waktu itu sudah bulan Oktober 2007. Siklus pertama pengajuan beasiswa sudah berakhir dan sedang dalam proses seleksi akhir, sedangkan siklus kedua hampir berakhir waktu pendaftarannya. Saya harus gerak cepat untuk mendapatkan persetujuan dari Senior Manager dan Vice President. Dalam waktu sekitar 5 hari selesai juga persetujuan dari banyak petinggi perusahaan dan segala dokumen pengajuan beasiswa akhirnya siap dikirim ke panitia beasiswa.

Perjuangan baru dimulai!

Dokumen para karyawan yang mengajukan beasiswa pertama akan dipelajari secara seksama oleh Leadership Team (LT). Apakah LT ini? Diperusahaan tempat saya bekerja, LT adalah sebuah tim yang beranggotakan President, Vice President dan Managing Counsel. LT terdiri dari 3 orang Indonesia dan 7 orang warga negara AS, termasuk President. Setelah dicermati oleh LT, maka persetujuan atau penolakan akan dijatuhkan. Jika ditolak, maka karyawan ybs akan diberitahu. Jika disetujui, maka dokumen tersebut akan dikirimkan ke President Asia Pacific. Perusahaan tempat saya bekerja beroperasi di 40 negara diseluruh dunia dan negara-negara yang berada di wilayah Asia Pasifik ini adalah Indonesia, Malaysia, Singapore, Vietnam, Australia dan China. Setelah President Asia Pacific menyetujui, maka dokumen ini akan dikirimkan ke kantor pusat di Houston, Amerika Serikat. Di sini, Management Committee kantor pusat akan memeriksa isi dokumen serta dilihat apakah rencana karyawan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Ketika dokumen saya dalam perjalanan, saya mendapat kabar bahwa semua para pelamar siklus pertama – yang berjumlah sekitar 7 orang – telah mendapatkan persetujuan dari kantor pusat. Wow! Hebat! Saya ingin merasakan kegembiraan yang mereka rasakan. Bagaimana dengan siklus kedua? Berdasarkan bocoran dari orang dari top level, ternyata para pelamar beasiswa siklus kedua ini hanya dua orang. Dag-dig-dug juga apakah disetujui atau tidak oleh manajemen pusat.

Tiga bulan telah berlalu.. tak ada kabar berita mengenai pengajuan beasiswa saya.

Suatu siang ada email yang dikirimkan pada email korporat saya. Dari HR rupanya, isinya sbb:

Dear Pak XXX dan Pak Nugroho,
Sehubungan dengan persetujuan atas beasiswa yang bapak ajukan, kami mohon dapat diberikan alamat surat menyurat (korespondensi), agar kami dapat mengirimkan surat resminya ke bapak.

Atas perhatian & bantuannya, kami ucapkan banyak terima kasih.

Alhamdulillah, rupanya lamaran beasiswa S2 yang saya ajukan sudah disetujui oleh manajemen perusahaan. Insyaallah mulai tahun ini saya akan memulai S2 saya. Tuhan rupanya mempunyai rencana untuk saya dan ini dia jawabnya.

Dimana kuliahnya? Ngambil jurusan apaan sih? Kenapa kok ngambil jurusan itu? Eng ing eng… Ceritanya akan disambung lagi, di blog ini juga tentunya.

 

2 Balasan ke Dapat Beasiswa

  1. bowo mengatakan:

    wah selamat!
    hebat hebat!
    ate sekolah nang ndi ??? ayo cepetan tulis, bikin penasaran nih

  2. ari3f mengatakan:

    alhamdulillah … sekali lagi selamat bi!
    ikut bangga dan mendoakan selalu dilancarkan sekolahnya …
    insyallah datang pas wisuda S2😀

    wo … pengen ngerti bocorane? cepek dulu dong :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: