Balada Tukang Bangunan

Selain bapak mertua dan ibu mertua saya yang rajin memberikan masukan mengenai renovasi rumah kami, ada juga orang-orang yang berjasa besar membantu kami dalam merenovasi rumah kami di Pasar Minggu, yaitu para tukang bangunan.

Nah, sedikit kilas balik, kebetulan karena saya tidak menggunakan jasa konsultan konstruksi bangunan, terpaksalah saya sendiri yang menjalankan tugas sebagai pengawas alias mandor tukang. Mulai dari pekerjaan mengatur pekerjaan tukang apa saja, mengatur belanja material semen/pasir/batu/kayu dan mengatur keuangan renovasi supaya tidak jebol.

Mengatur belanja material dan mengatur keuangan renovasi itu relatif “mudah”, karena mau diapakan juga yang diatur pasti nurut-nurut saja, tidak protes, lha wong namanya juga benda-benda mati. Nah kalo mengatur tukang  – yang notabene bukan benda mati – itu gampang-gampang susah! Pertama, kemampuan para tukang itu berbeda. Ada yang hebat dalam kerjaan batu, ada yang canggih masalah perkayuan dan lain sebagainya. Kata orang bilang: tempatkanlah orang yang tepat pada posisi yang tepat, maka hasilnya pasti akan dahsyat. Ini berlaku juga dalam masalah atur-mengatur tukang. Kerjaan tukang batu berbeda sekali dengan kerjaan tukang kayu, kalau tukang batu dipaksa mengerjakan pekerjaan tukang kayu hasilnya pasti amburadul, demikian juga sebaliknya. Pengenalan keahlian dan kemampuan tukang serta pendistribusian kerja berdasarkan kemampuan sangatlah penting.

Kedua, mereka berbicara dalam “bahasa” yang berbeda dengan kita yang mengenyam pendidikan diatas SMA. Namanya juga tukang, mereka memilih profesi tukang bukan karena mereka ingin, tetapi karena mereka tidak ada biaya sekolah setelah tamat SD atau SMP. Sehingga mereka terpaksa bekerja apa saja untuk menyambung hidup. Ini kenyataan dan tidak ada maksud menghina, seringkali kemampuan mereka merencanakan pekerjaan mereka sendiri tidak jelas dan seringnya dalam menjelaskan pendapat sulit untuk kita tangkap. Apalagi para tukang banyak menggunakan istilah-istilah atau jargon-jargon pertukangan yang tidak biasa kita dengar dipercakapan sehari-hari. Menggunakan “bahasa yang sama” dengan susunan yang sederhana akan membantu menjembatani perbedaan “bahasa” ini.

Dua kesimpulan diatas saya dapatkan setelah berbulan-bulan bergaul dengan mereka. Mari kita lihat wajah-wajah mereka dan sedikit cerita tentang mereka.

 

 Dari kanan ke kiri: Ajun, Pak Dadang, Junaedi

Ketiganya berasal dari Bandung, mereka tinggal dan menetap di daerah sekitar Sarijadi. Yang paling kanan namanya Ajun atau juga biasa dipanggil Jun Besar. Umurnya sekitar 35 tahun, rambut gondrong, suka mendengarkan musik cadas , masih belum berani berpacaran apalagi kawin. Di pekerjaan bangunan, ia mengambil spesialisasi pemasangan batu bata, penembokan, pemasangan keramik/batu candi. Selain itu dia cukup terampil dalam pemasangan perpipaan air dan talang. Di pekerjaan kayu seperti mempermak kusen jendela/pintu, ia bisa juga mengerjakan, tetapi agak kurang halus karena terbiasa pekerjaan kasar dengan batu-batuan. Cara bekerjanya cukup unik, ia sering bekerja sambil berkata-kata pada dirinya sendiri harus melakukan apa atau mengambil apa, sepintas seperti orang linglung hehehe. Pekerjaan Ajun ketika pekerjaan bangunan lagi tidak ada order adalah membantu orang mengebor sumur air dan memasang pipanya ke pompa air.

Kalau yang tengah namanya Pak Dadang atau biasa dipanggil Papap (sebutan untuk orang yang lebih tua bagi orang Sunda). Umur sekitar 50 tahun, sudah punya 2 orang cucu, agak pendiam, dulunya adalah mandor tukang tetapi sudah agak mengurangi pekerjaan karena faktor umur, pengalamannya paling tinggi diantara semua tukang. Di pekerjaan bangunan, ia mengambil spesialisasi pekerjaan kayu, mulai dari kusen jendela/pintu, balok rumah, atap rangka kayu, daun pintu/jendela. Hasil kerjaan kayunya luar biasa, halus dan apik. Di pekerjaan batu-batuan, ternyata beliau juga jago karena ternyata dulunya pekerjaan pertamanya adalah tukang batu dan akhirnya banting setir jadi tukang kayu. Sayangnya, jika beliau diminta untuk mengerjakan pekerjaan batu seperti memasang batu bata dan menembok, cara kerjanya akan cenderung melambat. Kenapa? Rupanya beliau sudah terpengaruh gaya pekerjaan kayu yang sangat memperhatikan detil dan kerapihan. Sedangkan pekerjaan batu tidak terlalu menuntut kedetilan yang cukup tinggi. Selain itu, beliau cukup terampil mengkoordinasi pekerjaan tukang-tukang lain dan merencanakan pekerjaan yang cukup besar serta harus dikerjakan bersama-sama. Pekerjaan rutin Pak Dadang ketika tidak ada pekerjaan bangunan adalah menjadi tukang ojek di kampung halamannya di Bandung.

Nah ini dia tukang yang terakhir, untuk membedakan dengan Ajun, dipanggilnya Jun Kecil karena memang bertubuh kecil, sebenarnya nama aslinya Junaedi. Umurnya sekitar 30 tahun, sudah berkeluarga dengan seorang anak, sangat pandai bergaul, mahir mengatur aliran material bangunan, sangat jujur dan posisinya sebagai manajer bagi semua tukang sekaligus anak buah bagi semua tukang. Lho kok bisa manajer sekaligus anak buah ya? Jadi si Junaedi ini orangnya tidak terlalu tinggi kemampuan teknis pertukangannya dibandingkan dua tukang pertama, baik dipekerjaan batu maupun dipekerjaan kayu. Dia bertugas membantu memenuhi kebutuhan tukang-tukang yang bekerja bersamanya, seperti pasir, semen, batu bata, kayu, cat, dempul kayu, lem, pipa PVC, bahkan sampai mengatur pembayaran ke toko bangunan. Spesialisasi pekerjaannya tidak jelas, karena sifatnya hanya membantu tukang yang lain, bisa batu, bisa kayu, bisa juga pengecatan. Tetapi dia juga yang mengatur pekerjaan para tukang langsung di bangunan, yang ini mengerjakan apa, yang itu mengerjakan apa.  Selain itu dia juga memenuhi kebutuhan tukang lain seperti menyediakan teko, gelas, kopi, gula, air galonan, beli extra joss, menyediakan gorengan, menservis atau mengantar sang pemilik rumah melihat-lihat serta menjelaskan perkembangan renovasi rumah.  Kebayang kan kerjaannya banyak banget? Jika pekerjaan bangunan tengah kosong, Junaedi bekerja serabutan mulai jadi marketing, bantu-bantu jual tanaman dan lain sebagainya.

Nah jadi kebayang kan siapa mengerjakan apa?🙂

Pekerjaan renovasi rumah mengandung resiko yang besar tanpa pengawasan langsung dari yang empunya rumah. Resiko utama adalah kecurangan dalam cara kerja dan pengaturan material. Saya sebut resiko utama karena besar kemungkinan kecurangan dalam cara kerja dan pengaturan material ini tidak ketahuan oleh empunya rumah jika tidak diawasi secara langsung.

Seringkali kita dapatkan tukang melambat-lambatkan kerjanya atau buang waktu dengan cara banyak-banyak istirahat ditengah hari kerjanya. Kenapa? Ya, supaya jumlah hari kerja tukang menjadi lebih panjang dari seharusnya sehingga ia bisa dapat uang lebih banyak karena tukang ini bekerjanya dibayar harian. Juga masalah pengaturan material. Banyak juga tukang-tukang berkasak-kusuk dengan toko material supaya harga barang ini digelembungkan nilai di tanda terimanya supaya ia mendapat selisih uangnya. Tukang yang tidak jujur semacam ini harus sesegera mungkin dipecat supaya kelakuannya tidak menular ke tukang lain dan memberikan pelajaran kepada tukang lain akibat dari berbuat curang.

Resiko lainnya, meski kecil, adalah masalah kualitas kerja. Kadang-kadang tukang juga suka ngasal kerjanya, sehingga meskipun pekerjaannya selesai tetapi hasil pekerjaannya buruk. Seperti misalnya dinding yang baru ditembok mestinya dicat 3-4 kali, tetapi oleh tukang dicat 2 kali saja, sehingga bekas tembokannya jadi kelihatan dan tidak sedap dipandang mata. Tetapi ini masih didalam kendali kita karena masih bisa kita perbaiki dengan cara menyuruh si tukang mengecat ulang. Kalau sudah tidak jujur dan malas? Wah, itu masalah kelakuan dan sulit diubah. Sehingga kalau sudah begitu, sebaiknya diajak bicara dan diminta berkomitmen. Ancamannya kalau gagal memenuhi komitmen adalah pecat. Kejam ya? Sebenarnya tidak, karena mereka tidak akan mungkin mengerti jika kita ajak diskusi dengan logika dan cara berpikir yang runtut. Namanya juga tukang!

Alhamdulillah, tukang-tukang seperti Ajun, Pak Dadang dan Junaedi selama bekerja untuk kami tidak pernah sedikit pun melakukan kecurangan-kecurangan seperti yang saya ceritakan diatas. Kejujurannya luar biasa, saya sampai salut! Mereka tidak pernah melambat-lambatkan pekerjaan mereka, sesegera mungkin mereka selesaikan apa yang bisa mereka kerjakan dan dengan kualitas pekerjaan yang tinggi.

Masalah pengaturan material saya sudah tidak pernah pegang uang, saya serahkan pada Junaedi untuk mengatur semua keuangan material dan keuangan makan tukang. Semua pengeluaran dicatat rapi beserta tanda terimanya. Saya bilang SEMUA! Mulai dari yang kecil-kecil ia catat seperti sepatu bot, benang, sampai paku yang jumlahnya sedikit. Tentunya tidak sepenuhnya saya percayakan semua uang renovasi yang kami miliki karena sejujur-jujurnya orang ya tetap saja dia orang lain. Alur pengaturan keuangan tetap saya pegang dan dirahasiakan jumlahnya.

9 Balasan ke Balada Tukang Bangunan

  1. mysparkling mengatakan:

    serba-serbi tukang bangunan ya mas Web, nice post!! Hmm, ntar kalo dah punya rumah n mau renov mudah2an bisa dpt tukang seperti Kang Junaedi dkk =)

    weby: kontak mereka aja, mudah2an kecapnya ga kebanyakan lah🙂

  2. ichanx mengatakan:

    gayanya keren…. kayak boys band… apalagi si junaedi dengan sebatang rokok di tangannya… hihihi.

    weby: hahaha boys band yg ahli tukang menukang kali chanx…

  3. ari3f mengatakan:

    Menarik …. menarik ….

    Rasanya baru kali ini ada pemiliki rumah yg menuliskan detil cerita tukang2 bangunannya ….🙂 sekalian mempromosikan ….. silakan silakan dikontrak …

    Btw, “guru” gitar Dewa Budjana yang pertama adalah tukang bangunan ….

  4. Qeong Ungu mengatakan:

    Salam kenal Pak. Saya juga punya rencana nabung, ntar rumah warisan camer yg dikasih ke future hubby bakal direnov jadi rumah batu (sekarang masih kayu). Memang masih lama sih..tapi ga papa kan punya cita-cita ya Pak. Ngebaca tulisan bapak jadi nambah inspirasi. BTW asik banget sekeluarga ngeblog. Salut

  5. sgeek mengatakan:

    tukang? hahaha.. blog ini salah satu blog yang worth to see. love it!

  6. iwan me mengatakan:

    Wah …. bagus juga ceritanya. Ada sedikit tambahan Pak, …Biasanya kalau tukang yang sudah senior suka nyebelin kalau dikasih tahu tentang kerjaannya. Mereka suka mau pake caranya sendiri, walaupun akhirnya dia mau ngerjakan sesuai usulan kita, pasti deh muka tukang senior itu cemberut dan manyun.

  7. Fahmi mengatakan:

    nice article…wish us luck for everything…

  8. Fahmi mengatakan:

    nice article….wish us luck….

  9. popy mengatakan:

    yaudah jangn sewot gitu dunk hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: