Rumah Minimalis yang ternyata tidak Minimalis

Istilah “rumah minimalis” memang menyesatkan kalau dipikir benar-benar. Yang minimal apanya? Tampilannya? Harga belinya? Biaya perawatannya? Atau penggunaan energinya. Sejauh yang saya lihat dan rasakan rumah minimalis itu masih seputar tampilannya yang tidak terlalu banyak pernak-pernik. Lainnya sudah bisa dipastikan tidak minimalis.

Hari Minggu kemarin saya, istri dan anak-anak berjalan-jalan pagi di komplek rumah dan iseng-iseng berkunjung ke salah satu komplek townhouse dekat rumah kami. Ada beberapa townhouse di daerah rumah kami dan townhouse yang ini sepertinya belum pernah kami kunjungi. Kenapa kok dikunjungi? Mumpung masih fase pembangunan, biasanya orang luar komplek townhouse diperbolehkan masuk dengan harapan bakal dibeli, padahal kami hanya ingin cuci mata, penyegaran atau hanya ingin tahu perkembangan seputar pengembangan rumah hehehe.

Seperti layaknya konsep rumah minimalis pada umumnya, konsep penghematan energi tidak digubris. Akibatnya penggunaan listrik pasti tinggi. Sirkulasi udara misalnya, asalnya memang didesain menggunakan AC, sehingga peranan udara luar tidak dimanfaatkan. Belum lagi banyak jendela berukuran besar-besar. Memang sinar matahari bisa mengurangi penggunaan lampu, tapi penggunaan AC malah justru malah semakin intensif. Belum lagi material yang digunakan juga karena sedang trend, sehingga hukum supply-vs-demand berlaku, harganya bisa menjadi lebih mahal. Perawatan? Sama saja. Struktur rumah minimalis yang pada umumnya jangkung membuat perawatan menjadi sulit untuk mencapai bagian-bagian tertentu yang potensial kotor. Belum lagi kalau suka bermain dengan warna-warna cerah, dijamin bongkok deh ngebersihinnya.

Lho, kok komentarnya negatif semua sih masalah rumah minimalis? Mentang-mentang ga punya rumah minimalis ya? Hehehe.. Bukan kok, hanya heran saja sama orang-orang yang mampu beli rumah minimalis. Biaya yang sebegitu besarnya harusnya bisa untuk membuat rumah yang sama indahnya, tapi lebih hemat konsumsi listriknya, mudah perawatannya dan sirkulasi udaranya lebih sehat (tidak terus menerus pakai AC). Ujung-ujungnya biaya operasional rumah juga kecil sehingga rumah tidak lagi menjadi beban keuangan pribadi atau keluarga.

Lha kalau memang orangnya mampu bagaimana? Bukan masalah mampu/tidak mampu, tapi kalau ada kelebihan duit bisa dipakai hal-hal lain juga toh pada akhirnya. Semoga jargon “minimalis” ini bisa diperbaiki dengan jargon lain yang lebih mengutamakan aspek biaya operasional rendah, ramah lingkungan dan nyaman ditinggali oleh penghuninya.

2 Balasan ke Rumah Minimalis yang ternyata tidak Minimalis

  1. hilman mengatakan:

    mas weby, bagi saya rumah minimalis = minimal istri masuk, anak-anak belakangan hehe..
    hehehe… betul tuh… minimal keluarga bisa masuk..

  2. lilya mengatakan:

    insya Alloh, rumah minimalisku ga pake AC Mas Web🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: